Tradisi Tahun Baru Imlek yang Filosofis Penuh Makna | Toko Kain Surabaya

Windy 20 Jan 2023 at 20:01
Share To:
Facebook Twitter Google+ WhatsApp Subscribe

Tradisi Tahun Baru Imlek yang Filosofis Penuh Makna

 

 

Anak - Anak Sedang Merayakan Tahun Baru Imlek

 

Jumlah populasi suku tionghoa di Indonesia mencapai7,6 Juta. Maka tak heran rasanya bila kebudayaan suku tionghoa cukup dikenal oleh masyarakat Indonesia, mulai dari makanan, pakaian, sampai tradisi. Salah satu tradisi suku tionghoa yang cukup populer di Indonesia adalah tradisi tahun baru imlek. 

Imlek sendiri dirayakan oleh masyarakat tionghoa seluruh dunia di setiap awal tahun sebagai wujud syukur dan harapan akan rezeki pada tahun mendatang. Dan di dalam perayaan tradisi tahun baru imlek terdapat tradisi-tradisi unik yang sangat menarik untuk Anda ketahui.

 

Cek Yuk Warna Bahan Seragam Kerja Granmax Tropical Di Mitra Mulia Toko Kain Surabaya

 

Berberes Rumah 

Masyarakat Tionghoa senantiasa mengharapkan keberuntungan selalu hadir dikehidupan mereka. DIsisi lain, masyarakat Tionghoa juga berharap agar mereka dapat senantiasa terhindar dari segala kesialan dan keburukan. Hal ini yang mendorong untuk melakukan budaya beberes rumah sebagai tradisi tahun baru imlek.

Setiap anggota keluarga saling berbagi tugas untuk membersihkan rumah menjelang tahun baru imlek. Tradisi ini juga memiliki fungsi menguatkan hubungan keluarga dan meningkatkan kerja sama di antara mereka.

 

Baca Artikel lain nya

 

Menghias dan Menata Ruangan 

 

Menghias dan Menata Ruangan Untuk Merayakan Imlek

 

Bagi masyarakat Tionghoa rumah bukan hanya sekedar tempat tinggal, namun sebagai tempat untuk mendatangkan keberuntungan. Oleh karena itu, mereka berusaha untuk menghias dan menata ruangan di rumah mereka sebaik mungkin dengan didominasi warna merah. Kegiatan ini seringkali dilakukan selama tahun baru imlek dan sudah menjadi tradisi selama bertahun-tahun. 

Masyarakat Tionghoa meyakini warna merah mempunyai filosofi yang menunjukan kemegahan, kekuatan dan simbol kemewahan. Dan tak lupa mereka menempelkan kalimat-kalimat yang mengandung harapan dan impian di beberapa sudut ruangan.

 

Penggunaan Warna Merah pada Ornamen-ornamen Lain

Bukan hanya ruangan dan bangunan, warna merah juga diaplikasikan oleh masyarakat Tionghoa pada pakaian sampai aksesoris yang mereka pakai selama moment imlek. Hal ini memperkuat suasana pada perayaan tradisi tahun baru imlek. Warna merah ini juga menggambarkan kegembiraan dan lambang kehidupan manusia yang seolah terlahir kembali.

 

Sajian Makanan Khas Imlek 

 

Sajian Makanan Khas Imlek

 

Di dalam perayaan imlek juga terdapat makanan khas yang selalu dihidangkan. Makanan yang harus ada ialah jeruk dan kue keranjang. Warna oranye pada Jeruk melambangkan emas dan keberuntungan, sedangkan kue keranjang melambangkan peningkatan diri di setiap tahunnya. Ada pula 12 jenis makanan sebagai interpretasi dari 12 shio kepercayaan masyarakat Tionghoa.

 

Pantangan Bemakan Bubur 

Masyarakat Tionghoa mempercayai bubur merupakan simbol kemiskinan. Sehingga bubur adalah salah satu makanan yang tidak boleh dihidangkan apalagi dimakan saat perayaan imlek.

 

Menyantap Hidangan Ikan Tanpa Membaliknya

Mengambil daging ikan di bagian bawah adalah sebuah pantangan bagi masyarakat Tionghoa. Masyarakat Tionghoa meyakini harus ada satu sisi daging ikan yang disisakan untuk esok. Hal ini diyakini dapat memberi nilai tambah di tahun mendatang.

 

 Menyalakan Kembang Api

Tak hanya tahun baru Masehi, perayaan tahun baru imlek juga menggunakan kembang api untuk memeriahkan suasana. Hal ini juga diyakini akan mengusir nasib sial dan malang serta lambang ucapan selamat datang pada keberuntungan di tahun berikutnya.

 

Merayakan Imlek Dengan Menyalakan Kembang Api

 

Membagikan Angpau Kepada Sanak Saudara

Salah satu momen yang sangat dinantikan oleh anak-anak dan sanak saudara khususnya yang belum menikah adalah pembagian angpau oleh orang yang lebih tua atau orang yang sudah menikah. Namun, ada pantangan yang cukup unik dalam pemberian angpao yaitu tidak diperkenankannya angka empat karena dianggap dapat menjadikan kesialan. 

Pantangan berikutnya adalah isi angpau tidak boleh terdapat unsur angka ganjil karena angka ganjil mempunyai kaitan dengan pemakaman. Tradisi pembagian angpau adalah sebagai wujud untuk mengirimkan kesejahteraan agar rezeki di tahun mendatang bertambah lancar.

 

Baca Artikel lain nya

 

Menyantap Hidangan Yu Sheng

Sejarah hidangan Yu Sheng dimulai pada era 1920-an. Seorang imigran Cina bernama Loke Ching Fatt berjualan hidangan Cina untuk beberapa acara seperti pernikahan. Salah satu hidangannya cukup terkenal adalah hidangan yu sheng yang terdiri dari 30 bahan. Dan sampai sekarang tetap dikenal sebagai makanan khas imlek di Asia Tenggara.

Satu piring Yu Sheng terdiri dari salad, wortel, potongan salmon, dan lainnya. Kemudian diberi saus wijen, buah plum, dan lain-lain. Lalu hidangan diaduk sampai merata. Hidangan ini disantap beriringan dengan kusyukurkan terhadap rezeki yang sudah didapat dan doa yang dipanjatkan untuk mendapatkan rezeki yang lebih baik di tahun mendatang. Dan terdapat kebiasaan unik yang dilakukan masyarakat Tionghoa saat menyantap hidangan ini yaitu dengan mengangkat sumpit setinggi-tingginya sambil mengatakan “Lao Qi”.

 

Barongsai dan Liong

 

Merayakan Imlek Dengan Pertujunkan Barongsai dan Liong

 

Barongsai dan Liong adalah icon perayaan imlek. Tarian khas dari barongsai dan liong dipercaya dapat menghadirkan keberuntungan dan mengusir roh-roh yang dapat mengacaukan kehidupan mereka karena mereka meyakini hantu, roh-roh jahat, monster, dan raksasa dapat diusir dengan suara keras dari alat musik saat tarian barongsai dan liong.

Share To:
Facebook Twitter Google+ WhatsApp Subscribe
  • 6
  • 1116 views

Tak mau ketinggalan update artikel terbaru kami ikuti kami, masukkan email anda & klik subscribe, Terimakasih


Recent Post


Related Article